Selasa, 17 April 2012

TESOS - Emile Durkheim

EMILE DURKHEIM ..
Mendirikan Sosiologi Sebagai Satu Ilmu Tentang Integrasi Sosial ..



Dari titik tolak yang praktis, penting untuk mengetahui sedikit tentang bagaimana memotivasi agar suatu kelompok terlibat dalam kegiatan kelompok itu, bagaimana meningkatkan moralnya, dan mengatasi konflik. Tetapi hal-hal ini hanyalah sebagian dari suatu masalah yang lebih besar dan lebih umum yang sudah lama dianggap penting oleh para ahli ilmu sosial. Ini merupakan masalah integrasi sosial dan solidaritas yang dilihat bukan hanya dalam hubungannya dengan kelompok atau organisasi tertentu, melainkan juga dalam hubungannya dengan masyaraka secara keseluruhan. Bagi beberapa ahli Sosiologi, masalah sentral dalam analisa sosiologi adalah menjelaskan keteraturan sosial yang mendasar yang berhubungan dengan proses-proses sosial yang meningkatkan integrasi dan solidaritas. Inilah masalah utama bagi Durkheim, dan juga salah satu masalah pokok dalam perspektif fungsional masa kini, khususnya yang diwakili oleh Parsons dan pengikutnya.
          Istilah ‘keteraturan sosial’ disini menunjuk pada sumber-sumber dukungan yang mendasar terhadap pola-pola institusi yang dominan dalam masyarakat yang meliputi sistem nilai masyarakat yang dimiliki, ide-ide moralitasnya, kepercayaan bersama yang melegitimasi atau mendukung pola institusi pokok dan memberikan arah serta arti bagi individu yang berpartisipasi dalam masyarakat. Meskipun masyarakat yang hidup mungkin tidak pernah memperlihatkan keadaan anarki alamiah seperti yang dikemukakakan Hobbes, masyarakat itu berbeda dalam tingkat integrasi sosial atau kuatnya keteraturan sosial. Gejala seperti alienasi yang meluas, sinisme yang meningkat, standar moralitas pribadi yang berubah cepat (pola pekerjaan, seks, dan keluarga) dan banyak lagi suara pelbagai kelompok yang mengejar kepentingan ekonominya menunjukkan bahwa keadaan keteraturan sosial terancam oleh pelbagai bentuk disintegrasi.
          Solidaritas sosial dan integrasi merupakan permasalahan substansif yang diperhatikan Durkheim dalam karya utamanya. Durkheim juga mengemukakan bahwa analisanya harus didasarkan pada data empiris dan data ini harus mengenai masyarakat atau struktur sosial itu sendiri bukan data individual. Ini penting untuk mendirikan sosiologi sebagai ilmu yang mempunyai data emppirik yang terpisah dan terlepas dari psikologi. Pusat perhatian Durkheim adalah pada tingkat struktur sosial meskipun banyak juga idenya yang berhubungan dengan budaya dan individu. Namun perhatian Durkheim pada solidaritas sosial dan integrasi sangat bertentangan dengan tekanan Marx terhadap kontradiksi dialektik dan konflik kelas.
          Tidak seperti Marx, Durkheim menjadi seorang akademisi yang sangat mapan dan sangat berpengaruh bahkan melembagakan sosiologi sebagai suatu disiplin ilmu yang sah. Pengaruh Durkheim pada perkembangan sosiologi di Amerika sangat besar baik dalam metodologi maupun teori. Pendiriannya mengenai kenyataan gejala sosial yang berbeda dari gejala individu, analisanya mengenai tipe struktur sosial yang berbeda dan mengenai dasar solidaritas serta integrasinya yang berbeda-beda, perhatiannya untuk menelusuri fungsi sosial dari gejala sosial yang terlepas dari maksud / motivasi yang sadar dari individu, pemecahan sosiologisnya mengenai gejala penyimpangan, bunuh diri dan individualisme – dalam semua bidang ini Durkheim memberikan sumbangan penting terhadap perkembangan perspektif sosiologi modern. Pengaruhnya juga sangat mencolok dalam aliran fungsionalisme sosiologi modern.

I.            RIWAYAT HIDUP DURKHEIM

Emile Durkheim lahir tahun 1858 di Epinal, suatu perkampungan kecil orang Yahudi di bagian timur Prancis yang agak terpencil dari masyarakat luas. Ayah Durkheim adalah seorang rabi, seperti kakeknya juga; dan kalau Durkheim sudah mengikuti kebiasaan tradisional, dia juga sudah menjadi seorang rabi. Untuk sementara ia masuk Katolik. Ia meninggalkan Katolisisme dan menjadi agnostik (tidak mau tahu tentang agama). Mungkin sebagian dari perhatiannya terhadap solidaritas dan integrasi bertumbuh dari kesadarannya bahwa berkurangnya pengaruh agama tradisional merusakkan salah satu dukungan tradisional yang utama untuk standar moral bersama yang membantu mempersatukan masyarakat di masa lampau.
          Pada usia 21, Durkheim diterima di Ecole Normale Superieure. Dia datang ke Paris untuk bisa masuk sekolah Lycee Louis-le-Grand. Durkheim menunjukkan keseriusannya sebagai mahasiswa dan tekanan yang dominan adalah pada sastra klasik, termasuk bahasa Yunani dan Latin. Dua professor di Ecole Nomale Durkheim mendapat pengaruh, seperti dari de Coulanges seorang ahli sejarah, ia mempelajari nilai ilmiah yang kuat, juga tekanan pada consensus intelektual dan agama sebagai dasar solidaritas sosial. Dari Boutroux, seorang ahli filsafat ia mempelajari pentingnya mengakui bahwa ada tingkatan kenyataan yang berbeda dan lebih tinggi. Seperti yang dikembangkan oleh Durkheim bahwa ada satu argument melawan reduksionisme psikologis (ide bahwa gejala sosial dapat dijelaskan dengan cukup baik menurut prinsip psikologi pada tingkatan individu).
          Setelah menamatkan pendidikan, ia mengajar dalam SMA (lycees) di Paris. Di Jerman, ia diperkenalkan Laboratorium Psikologi oleh Wilhelm Wundt seorang ahli psikologi eksperimental. Ia diperkenalkan dengan ide mengenai pembeda antara Gemeinschaft dan Gesellschaft yang sekarang terkenal dalam buku Tonnies (direvisi Durkheim). Durkheim bertekad untuk menekankan pengajaran praktis ilmiah serta moral daripada pendekatan filsafat tradisional yang menurutnya tidak relevan terhadap masalah sosial dam moral. Pendirian ideologis Durkheim secara pribadi bersifat liberal. Namun dalam prakteknya ia membela hak-hak individu melawan pernyataan yang tidak adil yang dibuat atas nama masyarakat.
1.   Melembagakan Sosiologi sebagai Satu Disiplin Akademis
Tahun 1887 ketika berumur 29 tahun, pemberian kuliahnya dan beberapa artikel membuat ia menjadi seorang ahli ilmu sosial yang terpandang. Untuk ini ia diangkat di fakultas pendidikan dan fakultas ilmu sosial di Universitas Bordeaux. Kebutuhan untuk mengajar kursus pendidikan memungkinkan Durkheim mengembangkan perspektif sosiologinya mengenai kepribadian manusia yang dibentuk oleh masyarakat melalui wakilnya dalam sistem pendidikan. Tahun 1896 Durkheim diangkat menjadi professor peenuh dalam ilmu sosial. Dua tahun kemudian, ia mendirikan L’Anee Sociologique, jurnal ilmiah pertama untuk sosiologi. Penerbitan jurnal ini terhenti karena Perang Dunia I. tahun 1899 ia ditarik ke Sorbonne. 1906 ia dipromosikan sebagai professor penuh dalam pendidikan. Tahun 1913 kedudukannya dirubah ke ilmu pendidikan dan sosiologi. Akhirnya Sosiologi secara resmi didirikan dalam lembaga pendidikan. Pada tahun 1915, Andre (putranya) meninggal dunia. Dan pada tahun 1917 di usia 59 tahun ia meninggal dunia setelah menerima penghormatan untuk karirnya yang produktif dan bermakna serta setelah dia mendirikan sosiologi ilmiah.
2.   Pengaruh Sosial dan Intelektual terhadap Durkheim
Pengaruh Durkheim sepanjang hidupnya terhadap solidaritas dan integrasi
sosial muncul karena keadaan keteraturan sosial yang goyah. Singkatnya akibat yang berkepanjangan dari Revolusi Prancis yang meliputi ketegangan yang terus menerus dan konflik-konflik yang berlangsung hampir sepanjang abad 19. Saat itu Durkheim lebih tertarik untuk memahami dasar-dasar munculnya keterarturan sosial, dan ia bertekad untuk mendorong perubahan pendidikan yang akan menanamkan rasa kuat akan moralitas umum dan solidaritas. Durkheim mengakui Comte sebagai pendiri disiplin sosiologi dan juga sependapat tentang masyarakat yang bersifat organis.


3.   Pertentangan dengan Individualime Spencer
Durkheim mempertegas pendekatan sosiologinya yang khusus itu sebagai sesuatu yang bertentangan dengan perspektif Herbert Spencer yang bersifat individualistis. Spencer adalah seorang ahli teori sosial dari Inggris yang sangat berpengaruh di sana selama abad ke-19 dan kemudian di Amerika karena ide-idenya mengenai evolusi dan kemajuan sosial. Spencer juga tertarik pada perkembangan evolusi jangka panjang dari masyarakat-masyarakat modern. Namun pandangannya mengenai masyarakat yang bersifat organis itu berrbeda dalam beberapa hal penting dan juga bertentangan dalam hal asumsi pendekatan.
Model evolusi sosial Spencer tentang kompleksitas sosial yang semakin meningkat melalui peningkatan pembagian kerja hampir sama dengan analisa Durkheim. Spencer kurang tegas dibanding Durkheim dalam mengidentifikasi mekanisme pembagian kerja. Perbedaan yang penting antara Spencer & Comte dan Durkheim adalah gambaran Spencer mengenai kenyataan sosial yang bersifat individualistis.
Pandangan Spencer mengenai peranan yang tepat dari pemerintah berbeda dengan gagasan Comte dan Durkheim. Juga gambarannya yang bersifat individualistik tentang kenyataan sosial. Mengenai pertanyaan bagaimana masyarakat itu dibentuk, kritikan Durkheim terhadap Spencer dan teori-teori individualistik lainnya adalah bahwa mereka tidak menjelaskan ikatan sosial primordial atau konsensus moral atas dasar dimana persetujuan kontraktual antar individu itu penting. Spencer melihat masyarakat dibentuk oleh individu-individu, sedangkan Durkheim melihat individu dibentuk oleh masyarakat. Tekanan pada pentingnya tingkatan sosial merupakan satu dasar teori Durkheim.

II.          KENYATAAN FAKTA SOSIAL

Asumsi umum yang paling fundamental yang mendasari pendekatan Durkheim
terhadap sosiologi adalah bahwa gejala sosial itu riil dan mempengaruhi kesadaran individu serta perilakunya yang berbeda dari karakteristik psikologis, biologis, atau yang riil, gejala tersebut dapat dipelajari dalam metode empirirk. Pandangan ini mengabaikan consensus normative dan sumber-sumber sosial dari mana individu mendefiniskan kepentingan pribadinya itu. Durkheim membawa kita ke persoalan mengenai macam struktur sosial yang memperbesar jangkauan pilihan yang dapat dibuat oleh individu.
1.   Fakta Sosial Lawan Fakta Individu
Pertanyaan lain yang muncul dari tekanan Durkheim pada kenyataan gejala
sosial yang obyektif menyangkut sifat dasar kenyataan itu. Dia bertahan pada pendiriannya bahwa fakta sosial itu tidak dapat direduksikan ke fakta individu, melainkan memiliki eksistensi yang independen pada tingkat sosial. Meskipun karakteristik kelompok mungkin lebh daripada jumlah individu yang meliputi kelompok itu, kelompok tidak dapat secara terpisah dari anggota-anggota individualnya. Namun dalam masa Durkheim hidup dibawah pengaruh positivism, ilmu dilihat sebagai sesuatu yang berhubungan dengan gejala yang “riil” (factual). Tanpa obyektif riil sebagai pokok permasalahannya, suatu ilmu tentang masyarakat tidaklah mungkin. Hal ini meembuat Durkheim berulang kali mengemukakan khususnya dalam karir awalnya (The Rules of Sociological Method ) bahwa gejala sosial itu adalah benda. Artinya, gejala sosial adalah riil secara obyektif, dengan satu eksistensi yang terlepas dari gejala biologis atau psikologis individu.
2.   Karakteristik Fakta Sosial
Durkheim mengemukakan dengan tegas tiga katakteristik yang berbeda. Pertama, gejala sosial bersifat eksternal terhadao individu. Kedua, bahwa fakta sosial itu memaksa individu. Jelas bahwa Durkheim dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong atau dipengaruhi. Ketiga, bahwa fakta itu bersifat umum / tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat. Bagi Durkheim, pentingnya angka sosial itu adalah bahwa mereka merupakan indikasi dari satu kenyataan kolektif yang lebih besar yang tunduk dan menjelaskan pelbagai angka itu. Fakta sosial meliputi gejala seperti norma, ideal moral, kepercayaan, kebiasaan, pola berpikir, perasaan, dan pendapat umum.
3.   Strategi Untuk Menjelaskan Fakta Sosial
Sesudah menemukan sifat fakta sosial, Durkheim menjelaskan dalam bukunya The Rules of Sociological Method tentang bagaimana orang mengembangkan sosiologi sebagai data empiris. Karya ini pantas sebagai karya klasik dalam memberikan dasar-dasar metodologi dalam sosiologi. Salah satu prinsip metodologi dasar yang ditekankan Durkheim adalah bahwa fakta sosial harus menjelaskan hubungannya dengan fakta sosial lainnya. Prinsip yang kedua adalah bahwa asal usul suatu gejala sosial dan fungsi-fungsinya merupakan dua masalah yang terpisah. Prinsip lainnya adalah bahwa penjelasan tentang fakta sosial harus dicari didalam fakta sosial lainnya.

III.        SOLIDARITAS DAN TIPE STRUKTUR SOSIAL

Dalam satu atau lain bentuk, solidaritas sosial membawahi semua karya
utamanya. Singkatnya, solidaritas menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh perasaan emosional bersama. Bab ini seterusnya akan menyajikan analisa Durkheim terhadap solidaritas menurut : (1) Perbedaan-perbedaan dalam tipe solidaritas yang dinyatakan dalam tipe struktur sosial yang berbeda. (2) ancaman terhadap solidaritas dan tanggapan masyarakat tentang analisa ini (3) munculnya dan penegasan solidaritas lewat ritus agama.
1.   Solidaritas Mekanik dan Organik
Sumber utama bagi analisa Durkheim mengenai tipe-tipe yang berbeda dalam solidaritas dan sumber struktur sosialnya diperoleh dari bukunya The Division of Labor in Society. Tujuan dari karya klasik ini adalah untuk menganalisa pengaruh kompleksitas dan spesialisasi pembagian kerja dalam struktur sosial dan perubahan-perubahan yang diakibatkannya dalam bentuk pokok solidaritas sosial. Durkheim menggunakan istilah solidaritas mekanik dan organik untuk menganalisa masyarakat keseluruhannya, bukan organisasi dalam masyarakatnya. Bagi Durkheim, indikator paling jelas untuk solidaritas mekanik adalah ruang lingkuo dan kerasnya hukum-hukum yang bersifat menekan (repressive ). Hukum-hukum ini mendefinisikan setiap perilaku sebagai sesuatu yang jahat. Ciri khas yang penting dari solidaritas mekanik adalah bahwa solidaritas itu didasarkan keada suatu tingkat homogenitas yang tinggi pada kepercayaan, sentimen, dsb. Sementara solidaritas organik muncul karena pembagian kerja bertambah besar.
2.   Kesadaran Kolektif dalam Masyarakat Organik
Kesadaran kolektif memberikan dasar-dasar moral yang tidak bersifat kontraktual yang mendasari hubungan kontraktual. Durkheim menekankan pentingnya kesadaran kolektif bersama yang mungkin ada dalam pelbagai kelompok pekerjan dan profesi. Keserupaa dalam kegiatan dan kepentingan pekerjaan memperlihatkan suatu homogenitas internal yang memungkinkan berkembangnya kebiasaan, kepercayaan, perasaan, dan prinsip moral atau kode etik bersama.
3.   Evolusi Sosial
Dalam analisa Durkheim mengenai solidaritas mekanik lawan
solidaritas organik terkandung satu model perubahan sosial yang umum. Durkheim mengambil kompleksitas dan spesialisasi yang semakin meningkat dalam pembagian kerja. Durkheim melihat masyarakat industri kota yang modern sebagai suatu perwujudan yang paling penuh dari solidaritas organik. Mengapa pembagian kerja bertambah? Jawaban Durkheim berpusat pada perubahan demografik serta akibatnya pada frekuensi interaksi antara manusia dan pada perjuangan kompetitif untuk mempertahankan hidup.

IV.         ANCAMAN TERHADAP SOLIDARITAS

Dalam suatu masyarakat yang didasarkan pada solidaritas mekanik, solidaritas sosial sosia terancm oleh kemungkinan perpecahan kelompok-kelompok kecil yang secara fungsional bersifat otonom dan oleh jenis perilaku menyimpang apa saja yang merusak kesadaran kolektif yang kuat. Peralihan dari solidaritas mekanik ke organik tidak selalu merupakan proses yang lancar dan penuh keseimbangan tanpa ketegangan-ketegangan. Karena ikatan sosial primodial yang lama dalam bidang agama, kekerabatan, dan omunikasi dirusak oleh meningkatnya pembagian kerja, mugkin ada ikatan-ikaan lainnya yang tidak berhasil menggantiannya. Akinatnya masyarakat menjadi terpecah dimana individu terputus ikatan-ikatan sosialnya, dan dimana kelompok-kelompok yang menjadi perantara individu dengan masyarakat luas tidak berkembang dengan baik.
1.   Sumber-Sumber Ketegangan dalam Masyarakat Organik yang Kompleks
Satu ancaman yang lebih penting lagi terhadap solidaritas organik, berkembang ari heterogenitas dan individualitas yang semakin besar yang berhubungan dengan pembagian kerja yang tinggi. Dengan heterogenitas yang tinggi, ikatan bersama yang mempersatukan berbagai anggota masyarakat menjadi kendor. Individu mula mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang lebih terbatas yang terdapat dalam masyarakat itu, seperti kelompok pekerjaan. Solidaritas dalam kelompok-kelompok kecil separti itu tentu saja bersifat mekanik. Kalau solidaritas dengan tingkat ini digabungkan dengan melemahnya identifikasi dengan masyarakat yang lebih luas, maka kemungkinan konflik itu ada, karena kelompok khusus itu mengejar kepentingannya sendiri dengan merugukan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Alasan yang terdapat dalam hukuman bagi perilaku yang menyimpang yang mengancam solidaritas organik berbeda dengan alasan untuk menghukumpenyimpangan yang mengancam solidaritas mekanik. Pada umumnya hukuman terhadap orang yang menyimpang dalam suatu masyarakat organik cenderung lebih bersifat rasional dan disesuaikan dengan besarnya pelanggaran itu. Solidaritas organik dapat jaga rusak karena tekanan yang terlampau berlebih-lebihan terhadap individualisme.
2.   Integrasi Sosial dan Angka Bunuh Diri
Manifestasi utama yang dianalisis Durkheim secara intensif adalah perubahan dalam angka bunuh diri. Proporsi dasar yang digunakan dalam Suicide (penelitian klasik Durkheim) adalah bahwa angka bunuh diri berbeda-beda menurut tingkat integrasi sosial. Durkheim mengidentifikasikan tiga tipe bunuh diri, yaitu: egoistik, anomik, dan altruistik. Untuk kedua tipe yang pertama itu, angka bunuh diri berbeda-beda menurut tingkat integrasi sosial, artinya semakin rendah integrasi, semakin tiggi angka bunuh dir. Bunuh diri egoistik merupakn hasil dari suatu tekanan yang berlebih-lebihan pada individualisme atau kurangnya ikatan sosial yang cukup dengan kelompok sosial. Bunuh diri egoistik dapat disebabkan oleh tekanan budaya pada individualisme maupun oleh kurangnya ikatan pribadi oleh kelompok primer.
Bunuh diri anomik muncul dari tidak adanya pengaturan bagi tujuan dan aspirasi individu. Kalau bunuh diri egoistik mencerminkan memudarnya integrasi sosial, maka bnuh diri altruistik merupakan hasil dari suatu tingkatan integrasi sosial yang terlampau kuat. Tingkat integrasi yang tinggi itu menekankan individualitas ke titik dimana individu dipandang tidak pantas atau tidak penting dalam kedudukannya sendiri. Bunuh diri altruistik dapat disebabkan oleh dua sebab, yaitu (1) norma-norma kelompok mungkin penuntut pengorbanan kehidupan individu, (2) norma-norma kelompok itu menuntut pelaksanaan tugas-tugas yang begitu barat untuk dapat  dicapai sehingga individu itu mengalami kegagalan walaupun mereka sudah mereka sudah menunjukan usaha yang paling optimal.
3.   Kemunculan dan Dukungan terhadap Solidaritas
Perhatian Durkheim terhadap landasan-landasan moral masyarakat merangsang perkembangan perspektif sosiologi klasiknya pada fungsi agama yang bersifat sosial. Abalisanya mengenai hubungan timbal balik yang erat antara agama dan masyarakat dapat dikembangkan panjang lebar dalam The Elementary Forms of The Religious Life. Corak utama dari agama apa saja dalam pandangan Durkheim adalah berhubungan dengan suatu dunia yang suci. Durkheim memperbaiki dan menolak beberapa teori yang berlaku yang menjelaskan kepercayaan-kepercayaan akan suatu dunia yang suci sebagai khayalan belaka atau ilusi yang diperlukan oleh orang-orang dalam suatu abad prailmiah untuk menjelaskan gejala-gejala alam. Dia selanjutnya memperliatkan bahwa hubungan dengan kekuasaan ilahi yang bersifat supranatural yang dirasakan orang sama dengan hubungan mereka dengan masyarakat.
4.   Hubungan antara Orientasi Agama dan Struktur Sosial
Pengalaman agama dan ide tentang yang suci adalah kehidupan kolektif, kepercayaan dan ritus agama juga memperkuat ikatan sosial dimana kehidupan kolektif itu bersandar. Dengan kata lain hubungan antara agama dan masyarakat memperlihatkan saling keterangan yang sangat erat. Pada intinya menurut Durkheim kepercayaan totemik memperlihatkan kenyataan masyarakat itu sendiri dalam bentuk simbolis. Hubungan antara ritus agama dan kepercayaan dan kehidupan kolektif tetap ada.


5.   Agama dalam Masyarakat Modern
Durkheim mengakui bahwa bentuk-bentuk agama tradisional dimasa hidupnya tidak memperlihatkan kegairahan hidup yang merupakan sifat agama orang arunta di Australia. Dia juga merasa bahwa kurangnya gairah hidup dalam bentuk-bentuk agama di masa hidupnya merupakan gejala rendahnya tingkat solidaritas di dalam masyarakat. Teori Durkheim dapat dikecam karena terlalu sepihak menekankan solidaritas. Namun pasti bahwa model Durkheim tidak diharapkan untuk diterapkan dalam suatu masyarakat yang ditandai oleh perpecahan yang tajam dan ketidaksepakatan antarkelompok agama yang berbeda.
6.   Asal-Usul Bentuk-Bentuk Pengetahuan dalam Masyarakat
Menjelang akhir buku The Elementary Forms, Durkheim
memperluas pokok pikiran utamanya dengan mengemukakan bahwa tidak hanya pemikiran agama melainkan juga pengetahuan pada umumnya berlandaskan dari dasar sosialnya. Dalam melihat analisa tentang asal-usul pengetahuan dalam masyarakat, jelaslah bahwa pemikiran agama dan pemikiran ilmiah ditentukan oleh kondisi dan mencerminkan tipe struktur sosial di mana pemikiran itu muncul. Meskipun Durkheim tidak mengembangkan perspektif ini dalam sosiologi pengetahuan secara lengkap, perpektif ini mencerminkan asumsi dasarnya yang berhubungan dengan prioritasnya pada masyarakat daripada individu, serta proporsinya yang fundamental yang mengatakan bahwa perkembangan kepribadian individu atau kehidupan subyektif seseorang itu mencerminkan pengaruh lingkungan sosial secara mendalam.



Referensi

Johnson, Doyle P. 1986. Teori Sosiologi Klasik Dan Modern. Diterjemahkan Oleh : Robert M.Z. Lawang. Jilid 1. Bab V p. 164. Jakarta-Indonesia : PT Gramedia.

ANAK JALANAN




Manusia merupakan makhluk sosial yang perannya tidak pernah terlepas dari manusia yang lainnya. Interaksi pun akan terjadi baik antara dua orang individu atau lebih. Hal ini sering menyebabkan terjadinya konflik/masalah.
Didalam kehidupan kita sehari-hari pun kita sering dihadapi dengan masalah. Mungkin sudah tidak aneh lagi di telinga kita bila mendengar tentang Masalah Sosial. Di Indonesia, banyak sekali masalah sosial yang bermunculan. Menurut buku Charles Zastrow yang saya baca, ia mendefinisikan Masalah Sosial sebagai suatu kondisi sosial yang mempengaruhi sejumlah besar orang yang memerlukan perbaikan segera dengan sekumpulan tindakan-tindakan.

Salah satu masalah sosial yang sering kita dengar adalah mengenai Anak Jalanan (Anjal). Sampai sekarang, masih banyak kita temui anak-anak di perempatan jalan, atau di pinggir-pinggir jalan. Ada yang mengamen, atau sekedar mengemis meminta bantuan dari orang lain. Hal ini sangat ironis, ditengah keadaan Indonesia yang diharapkan dapat menjadi Negara Maju sementara masih banyak sekali warganya yang belum sejahtera.



Di kota besar, anak jalanan juga bukan lagi merupakan objek yang aneh. Apalagi bila sampai anak jalanan ini melakukan tindakan-tindakan yang meresahkan masyarakat. Maka dari itu, kita sebagai seorang Pekerja Sosial perlu melakukan tindakan kepada anak jalanan ini. Dalam UU No 11 tahun 2009 disebutkan pula tujuan dari seorang Pekerja Sosial agar dapat melakukan Pemberdayaan terhadap masyarakat yang dinilai belum berfungsi sosial. Khususnya pada pembahasan ini adalah anak jalanan. Tapi dibalik itu, seorang Pekerja Sosial pun jangan sampai lupa kalau mereka memiliki latar belakang kenapa menjadi Anjal. Mungkin yang dapat saya analisa diantaranya adalah yang pertama karena adanya keterdesakan ekonomi, dipaksa orang tuanya mencari uang, ada yang karena putus sekolah, kebebasan hidup, bahkan mungkin ada juga yang malas mencari pekerjaan sehingga lebih memilih menghabiskan waktunya di jalanan.

Sebagai seorang pekerja sosial, hendaknya kita merasa simpati dan empati terhadap keadaan ini. Peran pekerja sosial yang dapat diterapkan dalam kasus anak jalanan ini adalah sebagai :
1.      Teacher (Untuk mengajarkan mereka keterampilan-keterampilan agar mereka tidak tergantung kepada belas kasihan orang lain lagi)
2.      Konselor (Untuk memberikan konsultasi kepada klien untuk membantu permasalahan yang dihadapi klien)
3.      Motivator (Untuk memotivasi anak jalanan bahwa mereka memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan agar mereka tidak terus bergantung kepada charity  saja tapi mereka harus dapat berfungsi sosial juga)

Saran dari saya untuk mengatasi permasalahan anak jalanan ini ialah :
1.      Adanya upaya pembinaan anak jalanan oleh pemerintah atau pihak swasta
2.      Departemen Sosial lebih memperkuat kebijakan yang tegas tentang anak jalanan
3.      Menumbuhkan jiwa Wirausaha pada anak-anak jalanan
4.      Adanya Undang-Undang yang kuat terhadap anak jalanan
5.      Pembuatan rumah singgah untuk anak jalanan sehingga pekerja sosial dapat menjalankan perannya disini


Rabu, 14 Maret 2012

TESOS - Teori Sosial Karl Marx


Penting bagi kita untuk peka terhadap pengruh pentingnya kedudukan dalam hirarki ekonomi terhadap nilai-nilai serta tanggung jawab ideologi kita, pola-pola budaya dan hubungan-hubungan sosial dan kesejahteraan materil serta gaya hidup kita. Melihat pentingnya kondisi materiil itu, terhadapnya individu harus menyesuaikan diri atas dasar kedudukan ekonomi, merupakan satu dasar utama teori Marx. Kehidupan individu dan masyarakat kita didasarkan pada asas ekonomi. Ini berarti bahwa institusi-institusi politik, pendidikan, agama, ilmu pengetahuan, seni, keluarga, dan sebagainya bergantung pada tersedianya sumber-sumber ekonomi untuk kelangsungan hidup. Juga berarti bahwa institusi ini tidak dapat berkembang dalam cara-cara yang bertentangan dengan tuntutan-tuntutan sistem ekonomi. Dasar ekonomi ini dilihat Marx sebagai "infrastruktur" diatas mana "superstruktur" sosial dan budaya yang lainnya dibangun dan harus menyesuaikan diri dengannya.
Kegiatan masyarakat dalam sektor nonekonomi tidak selalu diarahkan kepada tuntutan asas ekonomi, tapi dalam analisa terakhir kegiatan dalam pelbagai institusi nonekonomi harus bergerak dalam batas yang ditentukan oleh tuntutan ekonomi; dan dinamika-dinamika sosial yang khusus dalam institusi lainnya dalam jangka panjang bukan tidak dapat sesuai dengan dinamika ekonomi. Individu dan keluarga mengetahui pentingnya faktor-faktor ekononomi dalam usahanya untuk "hidup sesuai dengan pendapatannya". Seperti yang ditekankan Marx, tuntutan untuk mencari nafkah supaya bisa tetap hidup dapat memakan waktu dan energi sedemikian besarnya sehingga hampir tidak mungkin untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan lainnya.
Pusat perhatian Marx adalah pada tingkat struktur sosial dan bukan pada tingkat kenyataan sosial budaya. Marx memusatkan perhatiannya pada cara orang menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisiknya. Dia juga melihat hubungan-hubungan sosial yang muncul dari penyesuaian ini dan melihat hubungan-hubungan sosial yang muncul dari penyesuaian ini dan tunduknya aspek-aspek kenyataan sosial dan budaya pada asas ekonomi ini. Pada kenyataannya, ide-ide bersifat "epifenomenal", artinya ide-ide itu merupakan cerminan dari kondisi kehidupan materil dan struktur ekonomi dimana orang menyesuaikan dirinya dengan kondisi itu. Bagi Marx, kunci untuk memahami kenyataan sosial tidak ditemukan dalam ide abstrak, tapi dalam pabrik-pabrik / dalam tambang batu bara, dimana para pekerja  menjalankan tugas di luar batas kemanusiaan dan berbahaya. Peristia demikian merupakan kenyataan sosial bukan impian naïf dan idealistic yang dibuat oleh Ilmu Pengetahuan, teknologi, dan pertumbuhan industry untuk meningkatkan kerja sama dan peningkatan kesejahteraan dalam bidang materil semua orang.
Marx mempunyai pandangan mengenai masyarakat utopis di masa depan, tapi yang hanya dapat muncul melalui perjuangan revolusioner.

I.            RIWAYAT HIDUP MARX

Marx lahir di Trier, Jerman, di daerah Rhine pada tahun 1818. Ayahnya Heinrich dan ibunya Henrietta berasal dari keluarga rabbi Yahudi. Kemudian dalam kehidupan Marx menekankan pandangan bahwa kepercayaan-kepercayaan agama tidak memberikan pengaruh paling penting terhadap perilaku, sebaliknya justru mencerminkan faktor-faktor sosial ekonomi yang mendasar. Dari ayahnya dan dari keluarga Ludwig von Westphalen, Marx memperoleh pengetahuan pemikiran Pencerahan Abad 18.
          Pada usia 18 tahun, sesudah mempelajari Hukum selama 1 tahun di Universitas Bonn, Marx pindah ke Universitas Berlin. Disana, sebagai akibat dari hubungannya dengan kelompok Hegelian muda, beberapa unsur dasar mulai dibentuk. Penganut Hegelian muda mempunyai pendirian kritis dan tidak menghargai ide-ide Hegel serta para pengikutnya, khususnya yang berhubungan dengan pandangan mereka mengenai masa lampau yang bertentangan dengan masa depan serta nada konservatifnya yang semakin bertambah.
          Hegel mengemukakan filsafat idealistisnya berupa model analisa dialektik. Pengertian dasarnya dalam analisa dialektik berintikan pandangan mengenai pertentangan antara tesis dan antithesis serta titik temu keduanya yang akhirnya akan membentuk suatu sintesa baru; kemudian ini menjadi tesis baru dan dalam pertentangan dengan tesis baru itu muncul suatu antithesis baru dan akhirnya kedua tesis yang saling bertentangan ini tergabung dalam satu sintesa baru yang lebih tinggi tingkatannya.
          Perkembangan sejarah menurut model abstrak Hegel meliputi penolakan atas ide-ide yang ada dan penggantinya dengan ide-ide baru yang bertentangan. Melalui proses inilah roh akal-budi (spirit of reason) nampak dalam tahap sejarah. Pandangan Hegel ini bersifat idealistic, artinya dia percaya bahwa kekuatan yang mendorong perubahan sejarah adalah munculnya ide-ide dengan mana roh akal budi menjadi lebih lengkap manifestasinya. Konservatisme semakin bertambah membuat pengikut Hegelian muda mengancam dan menolak ajaran-ajaran dari gurunya. Jadi, reaksi Marx terhadap Hegel dipengaruhi oleh pengetahuannya mengenai ide-ide pengikut Hegelian muda yang kritis. Dalam mengembangkan posisi teoritis dan filosofinya sendiri, Marx tetap mempergunakan bentuk analisa dialektik tetapi dia menolak idealism filosofis dan menggantikannya dengan pendekatan materialistik.
          Sesudah menyelesaikan disertajsi doktornya di Universitas Berlin, Marx berniat memasuki karir akademis. Namun sponsornya, Bruno Bauer, dipecat karena pandangan yang antiagama, membiarkan Marx tanpa dukungan. Akhirnya Marx menerima tawaran untuk menulis dalam surat kabar Rheinishe Zeitung. Pendirian radikal-liberal surat kabar itu mencerminkan oposisi borjuis terhadap sisa sistem aristokratis-feodal kuno. Marx menjadi pemimpin redaksi. Lalu, tidak lama bekerja disana surat kabar itu segera ditekan dan setelah pernikahannya dengan Jenny von Westphalen, mereka pindah ke Paris.
          Selama tinggal di Paris (1843-1845), Marx terlibat dalam kegiatan radikal. Paris pada masa itu merupakan suatu pusat liberalism dan radikalisme sosial dan intelektual yang penting di Eropa, dan Marx berkenalan dengan pemikir-pemikir penting dalam pemikiran sosialis Prancis termasuk St. Simon, Proudhon, dan Blanqui. Tanggapan Marx terhadap ide-ide ini dipengaruhi oleh keyakinan yang sudah dia kembangkan dalam hubungannya dengan kaum Hegelian muda. Disini ia juga mengenal tulisan ahli ekonomi politik Inggris seperti Adam Smith dan David Richardo. Marx mengambil isu individualism pendekatan ini dengan mengatakan bahwa dengan individualisme itu hakikat sosial akan dikesampingkan. Yang lebih penting, Marx melihat meluasnya mentalitas dunia pasar yang bersifat impersonal itu ke hubungan-hubungan sosial dan struktur sosial sebagai satu sumber alienasi yang paling mendalam. Disini ia juga bertemu dengan Friedrich Engels yang dekat sampai Marx meninggal. Engels terkesan akan keberhasilan Marx dalam analisa ekonominya, hal ini ditambah lagi dengan bacaan Marx sendiri mengenai tulisan ahli ekonomi politik Inggris, mendorong dia ke usaha mengintegrasikan analisa ekonomi dan filsafat. Usaha ini tercermin dalam tulisan Marx yang berjudul Economic and Philosophical Manuscripts.
          Di Paris, Marx dan Engels memulai karya mengenai suatu interpretasi komprehensif tentang perubahan dan perkembangan sejarah. Karya ini akhirnya diterbitkan dengan judul The German Ideology; kemudian Engels menggambarkannya sebagai titik tolak untuk prinsip-prinsip materialism historis.
          Marx diusir dari Paris pada tahun 1845 oleh pemerintah karena tekanan dari pemerintah Prusia yang pernah terganggu oleh tulisan-tulisan Marx yang berbau sosialis. Dari Paris Marx menuju Brussel. Disana ia bertemu kenalan baru yang sudah terlibat dalam League of the Just yang merupakan organisasi revolusioner yang telah dibubarkan. Tahun 1846, Marx dan Engels bertolak menuju Inggris. Disana mereka membentuk panitia urusan surat menyurat supaya dapat mempertahankan kontak dengan kaum sosialis Prancis, Jerman, dan Inggris. Mereka diundang mengikuti Communist League yang hasilnya berupa Manifesto Komunis yang diterbitkan tahun 1847.
          Tahun 1848, Marx diundang ke Paris. Inilah masa pergolakan karena gerakan revolusioner dengan cepat mendapat sambutan di seluruh Eropa. Lalu Marx kembali ke Jerman untuk menerbitkan Neue Rheinische Zeitung dan dengan cara ini mempengaruhi arah revolusi itu. Tapi surat kabar ini tidak lagi terbit di tahun 1849 dan Marx diusir dari Jerman. Akhirnya ia pergi ke London setelah tidak diijinkan tinggal di Paris. Keadaan ekonomi Marx sangat memprihatinkan. Dia terus menulis; yang paling terkenal adalah The Class Struggles in France dan The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte. Marx dapat menghasilkan sedikit uang dengan membuat artikel mengenai peristiwa di Eropa yang dimuat dalam New York Daily Tribune. Pada pertengahan tahun 1850-an Marx menerima warisan kecil dari keluarga istrinya.
          Karya yang paling penting dihasilkan Marx di London adalah Das Kapital sebagai karya besarnya (magnum opus). Dalam karyanya ini dia mengembangkan dan mensistematisasi sebagian besar ide-ide yang sudah diuraikan sebelumnya dalam bukunya Economic and Philosophical Manuscripts, The German ideologi serta lainnya. Secara keseluruhan, pusat perhatian Das Kapital adalah kontradiksi internal dalam sistem kapitalis. Ditulis beberapa tahun sesudah revolusi tahun 1848, Das Kapital adalah usaha Marx untuk memberikan suatu analisa sejarah yang obyektif dan jangka panjang mengenai kekuatan-kekuatan dialektis dalam kapitalisme yang menjammin kehancuran terakhir. Yang lebih penting bahwa karyanya ini dimaksudkan sebagai kritik terhadap teori-teori ortodoks mengenai ekonomi politik, seperti teori Smith dan Ricardo dengan asumsi individualistiknya, implikasi-implikasi politik laissez-faire-nya serta optimismenya yang bersifat naïf mengenai konsekuensi jangka panjang yang menguntungkan dalam suatu pasar bebas yakni ekonomi kapitalis.
          Marx juga menerbitkan beberapa karya persiapan diantaranya : Outline of Critique of Political Economy (1857), A Contribution to the Critique of Political Economy (1859), dan Introduction (1859). Marx meneruskan studinya dengan menggunakan sumber-sumber yang terdapat pada British Museum untuk mengadakan penelitian yang perlu untuk karyanya dan sedikit menjauhkan diri dari kegiatan politik praktis dalam gerakan sosialis. Tapi pada tahun 1863 Marx siap mengakhiri sikap tidak terlibatnya dalam kegiatan politik. Fokus tujuan Marx selama tahun ini adalah untuk meningkatkan pemahaman mengenai kekurangan dan keruntuhan sistem kapitalis yang tidak dapat dihindarkan lagi sehingga mereka mau mengerti dinamika yang penting dalam tahap sejarah ini. Publikasi Das Kapital jilid pertama tahun 1867 memperkuat pengaruh dan dominasi intelektual Marx. Buku itu dikenal sebagai suatu analisa teoritis dan historis. Das Kapital dan The Communist Manifesto sangat terkenal khususnya di Amerika sampai setelah Perang Dunia ke-2.
          Karir Marx tidak dapat dipisahkan dari perkembangan gerakan sosialis di pertengahan abad 19. Marx merupakan seorang katalisator untuk tiga orientasi intelektual yang berbeda. Sumbangan teoritisnya banyak diambil dari (1) metode dialektik Hegel dan historisme Jerman (2) teori ekonomi politik Inggris (3) pemikiran sosialis prancis.

II.          MATERIALISME HISTORIS MARX

Materialisme historis sangat berguna untuk memberinya nama pada asumsi-
asumsi dasar mengenai teorinya. Dari The Communist Manifesto dan Das Kapital, sudah diasumsikan bahwa tekanan utama Marx adalah pada kebutuhan materiil dan perjuangan kelas sebagai akibat dari usaha-usaha memenuhi kebutuhhan. Perhatiannya dipusatkan pada usaha Marx untuk meningkatkan suatu revolusi sosialis. Asumsi tradisional ini agak menyimpang. Marx sangat menekankan pentingnya kondisi materil yang bertentangan dengan idealism Hegel tapi tidak menyangkal kenyataan subyektif atau peranan penting yang mungkin ikut menentukan dalam perubahan sosial.
          Menurut Marx, suatu pemahaman ilmiah yang dapat diterima tentang gejala sosial menuntut si ilmuwan untuk mengambil sikap yang benar. Artinya mereka memiliki suatu kesadaran subyektif tentang dirinya sendiri dan situasi materilnya.
1.   Kelemahan-Kelemahan Filsafat Abstrak Tradisional
Tekanan Materialisme Marx harus dimengerti sebagai reaksi terhadap interpretasi idealistic Hegel mengenai sejarah. Marx menolak filsafat sejarah Hegel ini karena menghubungkannya dengan evolusi ide sebagai suatu peranan utama yang berdiri sendiri. Teori idealistic seperti teori Hegel mengabaikan kenyataan yang jelas bahwa ide-ide tidak terlepas dari orang yang benar-benar hidup dalam lingkungan material dan sosial.
Saling ketergantungan timbal balik antara pengalaman praktis dalam dunia materil dan dunia kesadaran dan ide-ide diperhatikan Marx dalam pandangannya mengenai Praxis. Praxis Marx menunjuk pada kegiatan manusia yang dilaksanakan dalam konteks kondisi materil dan sosial yang ada. Praxis bertentangan dengan spekulasi intelektual murni dan mencakupi suatu kesediaan untuk menguji ideology-ideologi yang dominan serta kondisi sosial. Namun kritisme adalah langkah utama yang mempunyai tujuan akhir untuk menerobos pengaruh filsafat yang bersifat membingungkan. Konsep materialis Marx yang diterapkan pada perubahan sejarah dijelaskan dalam The German ideologi yang disusun bersama Engels. Kondisi kehidupan materil bergantung pada sumber alam yang ada dan kegiatan manusia yang produktif.
2.   Penjelasan Materialistis tentang Perubahan Sejarah
Penekanan materialistis ini berpusat pada perubahan-perubahan cara atau teknik produksi materil sebagai sumber utama perubahan sosial dan budaya yang mencakup perkembangan teknologi baru, penemuan sumber-sumber baru, atau perkembangan baru. Karena cara produksi dan kondisi-kondisi materil yang diakibatkannya berubah, maka kontradiksi-kontradiksi muncul antara cara-cara produksi dan hubungan-hubungan produksi.
Dalam The German Ideology, Marx dan Engels menelusuri perubahan utama kondisi materil dan cara produksi di satu pihak dan hubungan sosial serta norma pemilikan di pihak lain. Akhirnya, tahap feudal memberikan jalan bagi cara produksi borjuis dan hubungan-hubungan sosial yang menyertainya. Maksud dari The German ideologi adalah untuk menunjukkan bahwa manusia menciptakan sejarahnya selama mereka berjuang menghadapi lingkungan materilnya dan terlibat dalam hubungan sosial yang terbatas dalam proses ini. Visi Marx mengenai masyarakat komunis masa depan sangatlah idealistis dan kelihatannya mengusulkan suatu akhir kontradiksi internal dan konflik-konflik kelas yang sudah menjadi rangsangan utama perubahan sosial di masa lampau.





III.        INFRASTRUKTUR EKONOMI DAN SUPERSTRUKTUR SOSIO BUDAYA

Tekanan yang terus menerus dikemukakan dalam semua tulisan Marx adalah bahwa
struktur ekonomi masyarakat merupakan dasar yang sebenarnya. Seperti ditegaskan Marx dengan jelas dalam The Communist Manifesto bahwa ”Pemerintah negara modern benar-benar merupakan suatu komite yang mengurus kepentingan bersama kaum borjuis seluruhnya". Kalau Marx berulang-ulang menekankan ketergantungan politik pada struktur ekonomi ini, tipe analisa yang sama juga akan berlaku untuk pendidikan, agama, keluarga, dan semua institusi sosial lainnya.
1.   Akibat-akibat "Kesadaran Palsu" dalam Mendukung Struktur Ekonomi
Alasan mengapa sulit melihat hubungan yang erat antara kondisi materil, ekonomi dan ideologi budaya adalah bahwa ideologi budaya memberikan ilusi untuk mengimbangi ketimpangan dan kekurangan dalam kondisi hidup materil. Ketika mereka merasa adanya ketidakpuasan hasilnya adalah kesadaran palsu (false consciousness). Umumnya dukungan agama terhadap pelbagai norma yang mendasari keteraturan sosial membenarkan status-quo dan mendorong individu untuk bertindak sesuai dengan tuntutan untuk mempertahankan keteraturan sosial yang ada. Tipe analisa yang sama juga digunakan dalam kritik Marx terhadap ideologi-ideologi politik dan struktur Negara. Dalam The German Ideology, Marx melihat  Negara sebagai suatu kompensasi terhadap ketegangan yang muncul dari pembagian kerja.
2.   Perubahan dalam Struktur Sosial-Ekonomi dan dalam Pandangan Hidup
Yang berubah adalah perkembangan struktur sosial dalam menanggapi kondisi-kondisi materil dan memunculkan ide-ide baru. Perkembangan ide revolusioner tergantung pada pembentukan kekuatan materil yang baru yang melahirkan perubahan dalam hubungan sosial. Namun, pandangan hidup intelektual yang mendukung tipe struktur sosial ini dengan dominasi aristokratis tidak sejalan dengan kepentingan ekonomi kelas borjuis yang sedang muncul. Dalam kenyataannya, Marx mengemukakan tuntutan terhadap “kebebasan, persamaan, dan persaudaraan”. Marx berargumen bahwa sistem pasar ekonomi kapitalis yang impersonal merupakan kekhasan suatu tahap sejarah tertentu.


IV.         KEGIATAN DAN ALIENSI

Inti seluruh teori Marx adalah proposisi bahwa kelangsungan hidup manusia serta
pemenuhan kebutuhannya bergantung pada kegiatan produktif dimana secara efektif orang terlibat dalam mengubah lingkungan alamnya. Namun kegiatan tersebut mempunyai akibat yang paradox dan ironis karena begitu individu mencurahkan tenaga kreatifnya maka produk dari kegiatan ini memiliki sifat sebagai benda objektif. Produk yang diciptakan itu sebenarnya mewujudkan sebagian dari “hakikat manusia”. Institusi sosial, merupakan produk kegiatan manusia yang kreatif meskipun institusi ini sering nampak dalam kesadaran individu sebagai kekuatan obyektif dan asing yang harus dipatuhi.
1.   Pengaruh Feuerbach
Teori Marx mengenai alienasi dan pengasingan diri sangat dipengaruhi oleh Ludwig Feeuerbach terhadap filsafat Hegel. Feuerbach lebih konsisten daripada Marx dalam mempertahankan bahwa dunia kesadaran manusia serta ide semata-mata suatu cerminan kekuatan materil. Feuerbach sudah mengembangkan perspektifnya dalam bukunya Essence of Christianity. Singkatnya ia berargumentasi bahwa agama merupakan suatu proyeksi manusia dari sifat dasarnya. Menurut Feuerbachn filsafat Hegel tidak lain daripada suatu bentuk abstrak dan filosofis dari pemikiran teologis. Disisi lain, Marx mengkritik Feuerbach, khususnya dia menyerang penekanan materialisti Feuerbach yang berat sebelah. Marx sendiri menekankan pentingnya pemahaman terhadap konteks sosial dan sejarah yang khas, dimana bentuk kesadaran dan ilusi agama/ideologi muncul.
Marx menekankan hubungan dialektik antara seseorang sebagai obyek dan seorang sebagai subyek yang aktif. Kritik Marx yang tepat dan meyakinkan terhadap Feuerbach terdapat dalam tulisan Theses of Feuerbach “Para ahli filsafat hanya menginterpretasi dunia dalam pelbagai cara; masalahnya bagaimana mengubahnya”. Komitmen Marx untuk mengubah dunia melalui kegiatan praksis didasarkan pada kepercayaan idealistisnya bahwa alienasi akhirnya dapat diatasi. Marx setuju dengan Feuerbach bahwa bentuk alienasi yang paling mendalam yang dinyatakan dalam ideologi agama dan filsafat.



2.   Alienasi Kaum Buruh dalam Masyarakat Kapitalis
Economic and Philosophical Manuscripts (1844) merupakan satu kritik
terhadap teori-teori ekonomi politik yang sudah mapan di Inggris dari Smith, Richardo. Dengan latar belakang filsafat dialektik Hegel, Marx menarik kesimpulan dari studinya mengenai sistem kapitalis laissez-faire, yang jauh lebih simpatik daripada kesimpulan pemikir Inggris itu. Hasilnya adalah alienasi manusia dari sesamanya dan dari kodrat sosialnya sendiri, Marx menekankan masalah ini dalam tulisannya yang terkenal Communist Manifesto. Alienasi juga merupakan akibat dari hilangnya kontrol individu atas kegiatan kreatifnya sendiri dan produksi yang dihasilkannya.
          Marx menunjukkan bahwa penerapan wajar hukum penawaran dan permintaan dalam ekonomi yang bersifat impersonal itu mengurangii upah kerja sampai ke tingkat di mana para pekerja hanya dapat sekedar mempertahankan hidup dengan bekerja dalam jumlah jam sebanyak mungkin. Karena penawaran dari tenaga kerja manusia melebihi permintaan kapitalis untuk jasa mereka, maka hukum permintaan dan penawaran dalam ekonomi menjamin bahwa upah buruh sangat ekonomis, terlepas dari pengaruh ikatan sosial nonekonomi yang bersifat manusiawi dan lunak.
3.   Alienasi Politik
Dalam On The Jewish Question, dan dalam kritiknya terhadap Hegel mengenai Negara, Marx menganalisa perbedaan antara Negara dan masyarakat sipil yang berkaitan dengan pembeda antara manusia sebagai individu dengan kebutuhan biologis dan kepentingan egoistisnya dan manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki suatu rumpun hidup yang sama. Analisa Marx tentang Negara berubah sedikit ketika dia mengembangkan gagasannya misalnya dalam The German Ideology atau dalam The Communist Manifesto.

V.           KELAS SOSIAL, KESADARAN KELAS, DAN PERUBAHAN SOSIAL

Salah satu kontradiksi yang paling mendalam dan luas yang melekat dalam setiap
masyarakat dimana ada pembagian kerja dan pemilihan pribadi adalah pertentangan antara kepentingan materil yang berbeda. Pembagian yang paling penting dalam masyarakat adalah pembagian antara kelas-kelas yang berbeda.
1.   Hubungan Ekonomi dan Struktur Kelas
Kemampuan manusia untuk memenuhi pelbagai kebutuhannya tergantung
pada terlibatnya mereka dalam hubungan sosial dengan orang lain untuk mengubah lingkungan materil melalui kegiatan produktifnya. Hubungan ini dipengaruhi oleh perbedaan alamiah manusia sesuai dengan kekuatan, ukuran, tenaga, kemampuan. Dorongan yang paling penting untuk perubahan adalah ekspansi alat produksi yang dihasilkan oleh perkembangan teknologi.
2.   Pembedaan  Kelas Primer dan Sekunder
Karena sistem kapitalis berkembang, Marx mengharapkan bahwa ketiga sistem kelas itu secara bertahap akan diganti oleh suatu sistem dua kelas. Hal ini ia kemukakan dalam The Communist Manifesto “Masyarakat sebagai satu keseluruhan menjadi semakin terbagi dalam dua kelompok besar yang saling bermusuhan dalam dua kelas yang saling berhadapan secara langsung: borjuis dan proletariat”.
Dalam The Communist Manifesto Marx menekankan bahwa “ahli fisika, pengacara, imam, pujangga, ilmuwan” sudah berbalik menjadi “buruh upahan yang dibayar” dari keelompok borjuis. Analisanya mengenai perjuangan kelas di Prancis menunjukkan tujuh kelas yang berbeda-beda: “borjuis pemodal, borjuis industri, borjuis pedagang, borjuis kecil, petani, kaum proletar, proletar yang tidak laku”.
3.   Kepentingan Kelas Obyektif dan Kesadaran Kelas Subyektif
Dalam The Communist Manifesto Marx mengemukakan bahwa organisasi kaum proletar menjadi satu kelas sedang terganggu oleh kompetisi mereka satu sama lain. Yang berhubungan dengan pembedaan antara dimensi kelas subyektif dan obyektif adalah pembedaan antara kepentingan kelas. Kesadaran kelas merupakan satu kesadaran subyektif akan kepentingan kelas obyektif yang mereka miliki bersama orang lain dalam posisi yang serupa dalam sistem produksi.
4.   Munculnya Kesadaran Kelas dan Perjuangan Kelas
Apa yang menyebabkan kesadaran kelas yang palsu digantikan oleh
kesadaran kelas yang benar? Jawaban Marx atas pertanyaan ini dipusatkan pada perkembangan dalam kelas  masyarakat kapitalis. Satu faktor penting adalah semakin terpusatnya kaum buruh proletar dalam daerah-daerah industri kota. Bila diartikan secara mutlak, berarti bahwa individu kelas itu merasa semakin sulit untuk hidup dalam pengertian fisik belaka. Bila diartikan secara relatif, berarti bahwa jurang antara pemilik alat produksi dan buruh terus melebar. Perbedaan yang penting adalah bahwa kelas borjuis mewakili kepentingannya yang khusus sedangkan kelas proletar dalam pandangan utopis Marx bertujuan untuk mewakili umat manusia seluruhnya.
5.   Perjuangan Kelas dan Analisa Dialektik tentang Perubahan Sosial
Apa yang menentukan berhasil-tidaknya suatu kelas dalam mengubah
masyarakat sesuai dengan kepentingannya yang dinyatakan secara tegas? Jawaban Marx atas pertanyaan ini terletak pada perspektifnya mengenai perubahan sejarah secara menyeluruh. Perubahan dalam alat produksi mengakibatkan ketidakseimbangan antara kekuatan materil dan hubungan sosial dalam produksi. Dalam pandangan Marx, kontradiksi yang paling penting adalah antara kekuatan-kekuatan produksi materil dan hubungan-hubungan produksi dan antara kepentingan-kepentingan kelas yang berbeda. Manusialah yang menciptakan sejarahnya sendiri, meskipun kegiatan kreatifnya ditentukan dan terikat oleh lingkungan materil dan sosial yang ada.
Karir Marx sendiri secara pasti memperlihatkan keengganannya untuk percaya pada kekuaran dialektis impersonal dalam sejarah yang melahirkan jenis perubahan sosial yang dibayangkannya. Marx adalah seorang yang aktif, dan meskipun tulisan analistisnya mengemukakan proses-proses sejarah umumnya berkembang menurut dinamikanya sendiri secara impersonal, tulisan-tulisannya seperti The Communist Manifesto benar-benar merupakan satu ajakan untuk mengangkatsenjata. Munculnya krisis ekonomi dalam sistem kapitalis dipergunakan Marx untuk menjelaskan bahwa kontradiksi-kontradiksi internal dalam kapitalisme akan mencapai puncak gawatnya dan bahwa sudah tiba waktunya yang tepat bagi kaum proletar untuk melancarkan suatu revolusi yang berhasil.

VI.         KRITIK TERHADAP MASYARAKAT KAPITALIS

Meskipun pendekatan teoritis Marx keseluruhannya dapat diterapkan pada tahap
sejarah apapun, perhatian utamanya adalah pada tahap masyarakat kapitalis – perkembangannya sejak semula di akhir masa feodal, ketegangan-ketegangan dan konstradiksi internalnya dan akhirnya bubar dan berubah menjadi masyarakat komunis yang akan dating melalui kegiatan revolusioner kelas proletar. Maksud Marx yang dituangkan dalam Das Kapital adalah untuk mengungkapkan dinamika-dinamika yang mendasar dalam sistem kapitalis sebagai sistem yang bekerja secara actual, yang berlawanan dengan versi yang diberikan oleh para ahli ekonomi politik yang bersifat naïf.
          Marx menerima teori nilai tenaga kerja. Menurut teori ini, nilai pasar dari suatu komoditi ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang menghasilkan produksi itu. Nilai ini merupakan faktor utama dalam menentukan harga komoditi.
1.   Produksi Nilai “Surplus” dan Eksploitasi Tenaga Kerja
Dalam pandangannya yang idealistis mengenai sistem pasar, para ahli
ekonomi politik seperti Smith dan Richardo sudah mengemukakan bahwa transaksi ekonomi yang terjadi di pasar, menguntungkan semua pihak. Sistem pasar yang bersifat impersonal, di mana komoditi ditukar dengan uang, atau uang ditukar dengan komoditi. Perbedaan dalam pertukaran ini terletak dalam distingsi Marx antara lain “nilai pakai” (use value) dan “nilai tukar”. Secara bertahap cara produksi kapitalis menggantikan semua cara lainnya. Alasan utama bahwa kapitalis bergairah untuk menanamkan modalnya dalam mesin yang memperbesar kemampuan produksinya adalah keinginan untuk memperoleh keuntungan lebih daripada para saingannya.
2.   Ekspansi Kapitalis dan Krisis Ekonomi
Dalam perjuangan kompetitifnya untuk memperoleh keuntungan, kaum
kapitalis menggunakan mesin-mesin baru yang hemat buruh yang memperbesar kapasitas produksinya; hal ini merusakkan keseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan, dan hasilnya berupa satu spiral menurun, dengan permintaan pasar berkurang yang mengakibatkan berkurangnya keuntungan, berkurangnya investasi, berkurangnya kesempatan kerja, yang mengakibatkan berkurang terusnya permintaan di pasaran. Perusahaan-perusahaan kapitalis yang tidak berhasil itu akan dibeli oleh kapitalis yang lebih besar.
Akibatnya adalah kecenderungan untuk memusatkan dan menyatukan modal
di kalangan kapitalis yang makin lama makin sedikit. Marx tidak menyajikan suatu perencanaan yang terperinci mengenai masyarakat post-kapitalis itu, tetapi dia membayangkan suatu masyarakat di mana keuntungan dalam kapasitas produksi yang dihasilkan oleh kapitalisme akan dimiliki secara kolektif, daripada secara pribadi; hal itu akan membebaskan individu dari keharusan menggunakan semua waktunya untuk bekerja hanya untuk mempertahankan hidup, dan memungkinkan mereka untuk lebih mengembangkan kemampuan mereka sebagai manusia.
VII.       KRITIK TERHADAP MARX

Kritik Marx terhadap masyarakat kapitalis dan ramalannya mengenai perkembangan
masa depannya menjadi sasaran banyak kritik. Salah satu kritik yang tidak asing lagi adalah reaksi terhadap Marxisme sebagai suatu Ideologi politik, bukan sebagai suatu teori sosiologi atau teori ekonomi yang obyektif. Kecaman utama adalah bahwa Marx tidak cukup melihat ke depan akan besarnya kenaikan dalam kapasitas produksi yang terus dihasilkan oleeh perkembangan industri. Singkatnya, ramalan mengenai kondisi ekonomi kelas proletar yang semakin tertekan itu nampaknya tidak terjadi sekalipun menurut pandangannya tingkat penindasan itu harus dilihat secara relatif dan bukan secara mutlak.
Sebagai hasilnya, serikat-serikat kerja cenderung untuk kurang radikal daripada
yang dibayangkan Marx. Sebenarnya Marx menyinggung pertumbuhan kelas menengah yang berada di antara kapitalis dan buruh, tetapi dia tidak mengembangkan idenya ini secara sistematis. Tekanannya yang menyeluruh adalah pada kecenderungan untuk hubungan-hubungan kelas yang disederhanakannya dalam suatu sistem dua kelas begitu sistem kapitalis itu berkembang.
Secara lebih umum, kritik-kritik terhadap interpretasi Marxis mengenaai masyarakat
kapitalis mengemukakan bahwa Marx meremehkan fleksibilitas dan kemampuan menyesuaikan diri dari masyarakat kapitalis itu dalam menyelesaikan krisis, serta kemampuannya untuk bertumbuh dan berkembang seterusnya dalam jangka panjang. Dalam Outline of a Critique of Political Economy yang ditulis tahun 1859, nampaknya dia mengasumsikan bahwa sistem kapitalis itu akan bertahan untuk beberapa waktu. Dalam hubungan ini, Communist Manifesto Marx menuntut “Pajak pendapatan progresif atau pajak menurut besarnya pendapatan” yang antara lain merupakan sebagian dari program revolusionernya.